Biografi
ARTPLANET- Affandi Koesoema adalah salah satu maestro seni lukis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Dikenal dunia internasional berkat gaya ekspresionisnya yang sangat khas, perjalanan hidup Affandi merupakan refleksi dari dedikasi total terhadap dunia seni.
Berikut adalah narasi biografi Affandi yang dibagi ke dalam beberapa fase peristiwa penting dalam kehidupannya:
Masa Muda dan Pencarian Jati Diri (1907–1930-an)
Affandi lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1907. Ayahnya, R. Koesoema, bekerja sebagai mantri ukur di pabrik gula setempat. Meskipun berkesempatan mengenyam pendidikan formal yang cukup tinggi di zaman kolonial Belanda (seperti AMS di Jakarta), Affandi memilih jalur hidup yang berbeda.
Sejak muda, ketertarikannya pada seni lukis begitu kuat hingga ia memutuskan belajar secara otodidak. Sebelum sepenuhnya menjadi pelukis, ia sempat melakoni berbagai pekerjaan demi bertahan hidup, mulai dari guru, tukang sobek karcis bioskop, hingga pembuat reklame.
Era Perjuangan dan Kelompok Lima Bandung (1930-an–1940-an)
Pada tahun 1930-an, Affandi mulai berkomitmen penuh pada dunia seni rupa. Ia menikah dengan Maryati, yang juga seorang seniman. Kehidupan seninya menguat ketika ia mendirikan kelompok “Lima Bandung” bersama para pelukis legendaris lainnya seperti Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata, Sudarso, dan Wahdi Sumanta. Kelompok ini memiliki andil besar dalam perkembangan seni rupa modern di Indonesia.
Selama masa pendudukan Jepang dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia, Affandi aktif menggunakan seni sebagai alat perjuangan. Ia terlibat dalam pembuatan poster-poster propaganda perjuangan yang membakar semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Penemuan Gaya Khusus: Teknik “Plotot” (1950-an)
Fase ini merupakan titik balik paling krusial dalam estetika karya Affandi. Suatu hari saat ingin melukis, ia kehilangan kuasnya. Karena tidak sabar menunggu, ia secara spontan memplototkan (meremas) cat langsung dari tubenya ke atas kanvas, lalu menyapukan cat tersebut menggunakan jemari, telapak tangan, dan pergelangan tangannya.
Teknik menyemprotkan cat langsung dan melukis dengan tangan ini melahirkan tekstur yang sangat dinamis, kasar, dan penuh emosi mentah. Gaya inilah yang membawa namanya ke puncak aliran ekspresionisme dunia.
Pengembaraan Internasional dan Pengakuan Dunia (1950-an–1960-an)
Sejak awal tahun 1950-an, Affandi mulai melakukan perjalanan budaya ke luar negeri. Ia mendapat beasiswa ke India, di mana ia melukis dan mengadakan pameran keliling. Setelah itu, ia mengembara ke Eropa (termasuk pameran di Venesia Biennale dan Sao Paulo Biennale) serta ke Amerika Serikat. Dunia internasional terpukau oleh orisinalitas karyanya; seorang pelukis dari Timur yang membawa napas humanisme yang sangat kuat tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Pendirian Museum dan Masa Tua di Yogyakarta (1960-an–1990)
Setelah puas mengembara, Affandi menetap di Yogyakarta, tepatnya di tepi Sungai Gajah Wong. Di lahan tersebut, ia merancang dan membangun rumahnya sendiri dengan arsitektur unik berbentuk atap daun pisang. Tempat ini kemudian berkembang menjadi Museum Affandi, rumah bagi ratusan mahakaryanya.
Hingga masa tuanya, Affandi tetap produktif melukis objek-objek sederhana di sekitarnya: matahari, aduan ayam, wajahnya sendiri (self-portrait), hingga kehidupan rakyat kecil yang selalu dekat di hatinya. Sang maestro wafat pada 23 Mei 1990 dan dimakamkan di kompleks museumnya sendiri, dikelilingi oleh karya-karya hidupnya.