Hendra Gunawan

Lahir: Bandung, 11 Juni 1918

Biografi

ARTPLANET- Hendra Gunawan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 11 Juni 1918, dari pasangan Raden Prawiranegara dan Raden Odah Tejaningsih. Sebagai keturunan priyayi, keluarganya memiliki harapan besar agar Hendra kelak menjadi amtenar—pegawai pemerintah Hindia Belanda yang terhormat. Namun, takdir berkata lain.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Hendra telah menunjukkan bakat luar biasa dalam menggambar. Ia tekun belajar sendiri menggambar segala macam yang ada di sekitarnya: buah-buahan, bunga, wayang golek dan wayang kulit, hingga bintang-bintang film. Bahkan ketika duduk di kelas 7 HIS (Hollandsch-Inlandsche School), ia sudah sanggup melukis pemandangan alam.

Namun, jalan menuju seni tidaklah mulus. Ayahnya menginginkan Hendra mengikuti jejak priyayi lainnya, sementara Hendra berkeras memilih jalan kuas dan kanvas. Konflik ini akhirnya mendorong Hendra mengambil keputusan radikal: ia minggat dari rumah.

Pendidikan dan Pembentukan Artistik

Masa Menggelandang di Braga

Keputusan Hendra untuk meninggalkan rumah membawanya ke kawasan seni Jalan Braga, Bandung—jantung kehidupan bohemian pada zamannya. Di sinilah ia hidup kekurangan, bahkan menggelandang. Namun, nasib baik masih berpihak padanya. Seorang pria baya memberinya tumpangan cuma-cuma dan sering berbagi makanan.

Hendra kemudian mendapati kenyataan pahit: setiap makanan yang ia santap berasal dari nampan yang menampung sisa makanan restoran. Untuk pertama kalinya, Hendra merasakan empati yang mendalam kepada dunia kere—rakyat jelata. Pengalaman inilah yang kelak membentuk pribadinya sebagai seniman yang selalu ingin memberi, tanpa diskriminasi status sosial.
Guru dan Mentor

Hendra mulai serius belajar melukis setelah tamat SMP Pasundan. Guru pertamanya adalah Wahdi Sumanta, seorang pelukis pemandangan, serta Abdullah Suriosubroto—ayah dari pelukis Basuki Abdullah.

Namun, titik balik terbesar dalam perjalanan artistiknya terjadi ketika ia bertemu dengan Affandi. Pertemuan ini menjadi fase dan sumber inspirasi jalan hidupnya untuk menjadi seorang pelukis sejati. Bersama Affandi, Sudarso, dan Barli, mereka membentuk Kelompok Lima Bandung pada tahun 1935—sebuah kelompok belajar bersama yang saling membantu sesama pelukis.

Di rumah tempat tinggal Affandi, mereka mengadakan latihan melukis bersama dengan tekun dan mendalam. Dari Wahdi, Hendra banyak menggali pengetahuan tentang melukis. Di waktu senggang, ia juga menceburkan diri pada kelompok sandiwara Sunda sebagai pelukis dekor—pengalaman yang mengasah kemampuannya dalam menggambar figur dan komposisi

Awal Karier

Pada tahun 1938, Hendra Gunawan mulai belajar membuat patung secara otodidak. Keberaniannya dalam berkesenian terlihat ketika ia membentuk Sanggar Pusaka Sunda pada awal 1940-an bersama pelukis-pelukis Bandung lainnya.

Memasuki masa pendudukan Jepang (1942–1945), Hendra aktif membimbing para pemuda yang berminat pada seni lukis dan seni patung, serta mengorganisasi kegiatan seni dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di bawah pimpinan Tiga Serangkai: Soekarno, Mohammad Hatta, dan K.H. Mas Mansyur. Melalui kegiatan ini, Hendra dan rekan-rekannya banyak melukis di berbagai pelosok, termasuk di tempat-tempat yang dianggap terlarang seperti Pasar Ikan, Tanjung Priok, dan Pelabuhan Cirebon.

Pada tahun 1943, ia menerima penghargaan dalam sebuah pameran yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidosho (Lembaga Pendidikan dan Bimbingan Budaya), yang didirikan oleh pemerintah Jepang di Jakarta. Namun, hampir tidak ada karya-karyanya dari masa perang ini yang bertahan.

Perkembangan Gaya dan Identitas Karya

Pengaruh Tradisi dan Modernitas

Hendra Gunawan berhasil mengkombinasikan nilai-nilai lukis modern dari Barat dengan nilai-nilai konvensional tradisi lokal Indonesia. Ia banyak terpengaruh oleh relief Candi Borobudur dan Prambanan, ukiran klasik, batik, wayang kulit, wayang golek, serta motif hiasan seni kriya berbagai daerah di Indonesia.

Gaya matang Hendra mulai terbentuk pada tahun 1950-an, dengan kecenderungan menggambarkan figur dalam profil atau siluet, dengan eksagerasi stilasi pada fitur wajah, gerakan tubuh yang ekspresif, serta lengan dan jari yang panjang dan ramping. Pengaruh estetika wayang sangat terasa dalam karyanya—figur-figur perempuan yang dilukis dari sisi profil dengan perspektif datar sangat resonan dengan estetika wayang kulit.

Dua Fase Berkarya

Paling tidak terdapat dua fase besar dalam perjalanan berkarya Hendra Gunawan:

1. Masa Perjuangan Kemerdekaan

Pada periode ini, lukisan-lukisannya seputar perjuangan kemerdekaan. Ia turun ke medan perang dengan membuat poster-poster penyemangat bersama kelompok Seniman Indonesia Muda (SIM). Menurut catatan Agus Dermawan T yang menyadur dari istri Hendra, Karmini, Hendra adalah “tentara amatir” dan tidak tega membunuh lawan—ia lebih banyak merekam realitas di sisi keseharian dan kondisi masyarakat di masa perang.

Warna-warna pada periode ini cenderung gelap: hitam, merah, coklat tua, atau hijau tua. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan material melukis pada masa itu.

2. Pasca Kemerdekaan

Periode ini menyoroti kehidupan di dalam penjara karena keterlibatannya dengan LEKRA. Meskipun demikian, Hendra lebih fokus pada melukis berbagai aktivitas masyarakat di kampung-kampung sekitarnya, baik di kota maupun di desa. Warna-warna yang ia hadirkan lebih berani dan cerah: merah muda, hijau terang, violet, dan biru.

Peristiwa Penting dalam Hidup dan Karier

1945: Proklamasi dan Pelukis Front

Setelah proklamasi kemerdekaan, Hendra membuat poster-poster perjuangan. Pada tahun 1945, ia mendirikan Pelukis Front bersama Barli, Abadi, Sudjana Kerton, Kustiwa Suparto, dan Turkandi. Mereka aktif melukis pertempuran langsung di front terdepan dan membuat poster perjuangan untuk seluruh Jawa Barat. Baginya, antara melukis dan berjuang sama pentingnya.
1946: Pameran Tunggal Pertama di Bawah Sponsor Soekarno

Hendra pertama kali menyelenggarakan pameran tunggal di Gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Jalan Malioboro, Yogyakarta pada tahun 1946. Pameran ini disponsori dan dibuka oleh Presiden Soekarno dan dianggap sebagai pameran lukisan pertama kali sejak berdirinya pemerintah RI.

Namun, yang membuat pameran ini dikenang adalah sebuah tindakan provokatif Hendra. Di luar protokoler, ia diam-diam mengumpulkan puluhan gelandangan dengan penampilan kumuh untuk menjadi “tuan rumah” pameran. Protokol presiden menolak gagasan itu, tetapi Hendra bergeming. Saat pameran dibuka, Soekarno disambut oleh para gelandangan. Sang Presiden terkejut, tetapi ia mengangguk dan memeluk Hendra. “Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja,” kata Hendra.

1947: Mendirikan Sanggar Pelukis Rakyat

Pada tahun 1947, Hendra bersama Affandi, Sudarso, Kusnadi, Trubus, Sutioso, dan lain-lain mendirikan sanggar Pelukis Rakyat. Sanggar ini banyak melahirkan pelukis yang cukup diperhitungkan, seperti Fajar Sidik dan G. Sidharta.
1948-1950: Karya Publik dan Pendirian ASRI

Pada tahun 1948, Hendra sempat belajar selama 3 bulan di Percetakan A.C. Nix Bandung dan membuat ilustrasi buku De Bousren Oorlog karya Dr. Douwes Dekker.

Pada tahun 1950, ia membuat patung Jenderal Sudirman di halaman gedung DPRD Yogyakarta—patung batu pertama sesudah Prambanan. Pada tahun yang sama, bersama Affandi, S. Sudjojono, dan lainnya, ia menjadi pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta—yang kini dikenal sebagai ISI Yogyakarta. Hendra mengajar di ASRI hingga tahun 1957.

Pada tahun 1951 dan 1953, ia membuat Patung Tugu Muda di Semarang dan Patung Erlangga di Surabaya.

1957: Pameran Tunggal Kedua

Pameran tunggal kedua diselenggarakannya di Hotel des Indes Jakarta pada tahun 1957, dengan memamerkan lukisan-lukisan revolusi dalam ukuran besar-besar seperti Penganten Pasar Cibodas, Pertempuran di Klenteng, dan Jenderal Sudirman.
Keterlibatan dalam Politik

Hendra dicalonkan oleh PKI (melalui Lekra) sebagai salah satu anggota Konstituante dan terpilih dengan nomor anggota 483, masuk ke dalam Fraksi Republik Proklamasi. Ia juga duduk di komite pusat LEKRA.

1965–1978: 13 Tahun dalam Penjara

Pasca-Gerakan 30 September 1965, Hendra ditangkap dan dipenjarakan selama 13 tahun tanpa pernah diadili. Ia mendekam di Penjara Kebon Waru, Bandung. Selama di penjara, ia tetap diizinkan melukis—dan setiap karyanya yang diciptakan saat itu ia beri inisial “K.W.” (Kebon Waru) untuk menandai periode kelam tersebut.

Menurut kritikus seni rupa Bambang Bujono, selama Hendra dipenjara, banyak yang tidak tahu mana lukisan yang dibuat di dalam penjara dan mana yang dibuat di luar penjara. Kondisi ini mengakibatkan lukisan-lukisan Hendra sangat rentan dipalsukan.

Di dalam penjara pula awal mula terjalin hubungan romantik antara Hendra dengan istri keduanya, Nuraeni—yang juga seorang tahanan politik.
1978–1983: Tahun-Tahun Terakhir

Hendra dibebaskan pada 15 Mei 1978. Pada tahun 1979, setelah dibebaskan, lukisan-lukisannya yang menggambarkan revolusi dan kemerdekaan dipamerkan, tetapi karena stigma sebagai mantan tahanan politik kiri, penjualan karyanya sulit.

Pada tahun 1980, ia pindah ke Bali dan menetap di Ubud, tempat ia tinggal sampai akhir hayatnya. Di Bali, ia bergaul dengan para pelukis dan penyair sekaliber Umbu Landu Paranggi.

Karya-Karya Penting

Pengantin Revolusi (sekitar 1955)

Lukisan ini disebut-sebut sebagai karya empu dengan ukuran kanvas yang besar, tematik yang menarik, dan warna yang menggugah semangat juang. Lukisan ini mengisahkan sejoli rakyat jelata yang melangsungkan perkawinan di tengah kancah perang: si lelaki tak memiliki busana pengantin, sehingga meminjam baju tentara seorang laskar; si perempuan meminjam busana properti tari topeng Betawi. Sketsanya digoreskan pada 1947 dan digubah dalam cat minyak di atas kanvas pada 1957. Pada November 2022, lukisan ini ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ali Sadikin pada Masa Perang Kemerdekaan (1978)

Dilukis di dalam penjara, karya ini unik karena Hendra tidak pernah mengenal Ali Sadikin secara langsung. Ia hanya bermodal “spirit melukis ikon daerah” dan “epos pahlawan daerah”. Segala properti dalam lukisan—busana angkatan laut, teropong samudra, sepeda motor Harley Davidson—dikembangkan dari imajinasi dan cerita rekan-rekan di penjara. Lukisan ini kemudian terjual dengan harga fantastis, mencapai Rp60 miliar lebih.

Aku dan Istriku di Lonceng Kedua (1973)

Dilukis saat Hendra mendekam di Penjara Kebon Waru, karya ini mengabadikan tilas bahwa keterpisahan fisik justru menguatkan ikatan batin orang-orang tertindas.

12 Tahun Tak Mandi (1977)

Lukisan ini mengabadikan nasib tahanan politik yang bertahun-tahun dibui tanpa proses peradilan sekalipun—sebuah kritik sosial yang tajam terhadap ketidakadilan yang ia alami sendiri.

Diponegoro Terluka (1982)

Salah satu karya terakhir Hendra sebelum wafat, melukiskan sejarah patriotisme Indonesia dalam masa perjuangan kemerdekaan.

Terima Kasih Kembali Protein (1983)

Lukisan terakhir Hendra Gunawan. Terinspirasi oleh tenggelamnya kapal Tampomas, ia menggambarkan potret dirinya yang diserbu ikan-ikan—manifestasi dari rasa terima kasihnya pada ikan yang selama ini menjadi sumber inspirasi warnanya. Sayangnya, lukisan ini tidak selesai—sekaligus menjadi pertanda terakhir Hendra sebelum menghadap Illahi.

Tahun-Tahun Terakhir dan Akhir Hayat

Setelah dibebaskan dari penjara pada 1978, Hendra menetap di Bali. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya dalam ketenangan—meskipun stigma sebagai mantan tahanan politik masih membayangi.

Hendra Gunawan meninggal dunia di RSU Sanglah, Denpasar, Bali, pada 17 Juli 1983 pada usia 65 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Muslimin Gang Kuburan Jalan A. Yani, Purwakarta.

Pelukis yang dekat dengan penyair Chairil Anwar ini memilih Bali sebagai “pelabuhan hati yang teduh, tenang, dan tentram”

Belum ada dokumentasi karya seni untuk seniman ini.

Pendidikan dan riwayat pameran belum diinput.

Galeri foto portfolio belum tersedia.